Inilah Perbedaan Antara Adenomiosis dan Endometriosis! Dari Penengakan Diagnosa Sampai Pengobatannya!

Adenomiosis dan endometriosis adalah dua kondisi ginekologis yang sering kali membingungkan karena memiliki beberapa gejala yang mirip. Keduanya melibatkan pertumbuhan jaringan endometrium di luar lokasi normalnya di dalam rahim. Namun, ada perbedaan mendasar dalam mekanisme, lokasi pertumbuhan jaringan, gejala, serta metode diagnosis dan pengobatan. Artikel ini akan mengulas perbedaan utama antara adenomiosis dan endometriosis, termasuk penyebab, gejala, diagnosis, serta pilihan pengobatannya:

Pengertian adenomiosis dan endometriosis

Adenomiosis adalah kondisi di mana jaringan endometrium yang biasanya melapisi rongga rahim tumbuh ke dalam dinding otot rahim (miometrium). Hal ini menyebabkan rahim menjadi lebih besar dan menebal. Adenomiosis sering dikaitkan dengan nyeri haid yang hebat (dismenore) serta perdarahan menstruasi yang lebih banyak (menorrhagia).

Sementara endometriosis adalah kondisi di mana jaringan endometrium tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, saluran tuba, kandung kemih, usus, dan area panggul lainnya. Jaringan ini tetap merespons siklus menstruasi, yang berarti dapat menebal, luruh, dan berdarah setiap bulan, menyebabkan peradangan, nyeri, dan pembentukan jaringan parut (adhesi). Baca Juga: Tujuh Penyebab Tuba Falopi Rusak: Faktor yang Perlu Anda Ketahui

Penyebab adenomiosis dan endometriosis

Penyebab pasti adenomiosis belum sepenuhnya dipahami, tetapi beberapa teori menyebutkan bahwa kondisi ini dapat disebabkan oleh:

1.  Invasi langsung jaringan endometrium ke dalam miometrium, yang mungkin terjadi setelah operasi rahim seperti operasi caesar.

2.  Peradangan kronis pada rahim, yang dapat mengganggu batas antara endometrium dan miometrium.

3.  Faktor hormonal, seperti kadar estrogen yang tinggi, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan jaringan endometrium dalam miometrium.

Sama seperti adenomiosis, penyebab pasti endometriosis juga belum diketahui, tetapi beberapa teori yang paling sering diajukan meliputi:

1.  Menstruasi retrograd, di mana darah menstruasi yang mengandung sel endometrium mengalir ke belakang melalui saluran tuba ke dalam rongga panggul, bukan keluar dari tubuh.

2.  Transformasi sel peritoneal, yang memungkinkan jaringan peritoneal berubah menjadi jaringan endometrial akibat faktor hormonal atau imunologi.

3.  Faktor genetik, karena endometriosis sering ditemukan dalam keluarga.

4.  Disfungsi sistem kekebalan tubuh, yang memungkinkan jaringan endometrium tumbuh di luar rahim.



Gejala adenomiosis dan endometriosis

Adapun gejala dari adenomiosis yaitu adanya nyeri menstruasi (dismenore) yang sering kali lebih hebat dibandingkan nyeri menstruasi biasa, menstruasi yang lebih banyak dan lebih lama dari biasanya, perasaan tekanan atau pembengkakan di perut bagian bawah,  dan rahim membesar, yang dapat dirasakan sebagai tonjolan pada perut.

Sedangkan gejala endometriosis yaitu nyeri panggul kronis yang bisa terjadi sebelum, selama, atau setelah menstruasi, nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia), gangguan pencernaan seperti diare, sembelit, atau perut kembung, terutama selama menstruasi, infertilitas atau kesulitan untuk hamil.

Diagnosis dan Pemeriksaan adenomiosis dan endometriosis

Adenomiosis dapat didiagnosis melalui:

1.  USG Transvaginal, untuk melihat ketebalan dinding rahim dan pembesaran rahim.

2.  MRI (Magnetic Resonance Imaging), yang dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang perubahan pada miometrium.

Diagnosis Endometriosis melalui:

1.  Laparoskopi, yang merupakan prosedur pembedahan minimal invasif untuk melihat langsung pertumbuhan jaringan endometriosis.

2.  USG atau MRI, yang dapat membantu mengidentifikasi kista endometriosis (endometrioma) pada ovarium.

Pengobatan dan manajemen adenomiosis dan endometriosis

Untuk penegakan diagnosis serta pengobatan adenomiosis dan endometriosis sebaiknya segera dikonsultasikan kepada dokter keluarga Anda.

Umumnya pengobatan adenomiosis tergantung ringan beratnya penyakit. Mulai dari pemberian obat penghilang rasa sakit, seperti NSAID (ibuprofen) untuk mengurangi nyeri, terapi hormon, seperti pil KB atau IUD yang mengandung progesteron, untuk mengurangi perdarahan dan nyeri hingga histerektomi, yaitu pengangkatan rahim, yang merupakan satu-satunya cara untuk menyembuhkan adenomiosis secara permanen.

Sama seperti adenomiosis pengobatan endometriosis juga tergantung ringan beratnya suatu penyakit, mulai dengan memberikan obat pereda nyeri, seperti NSAID. Kemudian pemberian terapi hormon, termasuk pil KB, agonis GnRH, atau progestin untuk menghambat pertumbuhan jaringan endometrium, hingga dilakukan pembedahan, termasuk laparoskopi untuk mengangkat jaringan endometriosis, terutama pada kasus yang menyebabkan infertilitas atau nyeri parah.

Meskipun adenomiosis dan endometriosis sama-sama melibatkan jaringan endometrium yang tumbuh di tempat yang tidak biasa, keduanya berbeda dalam mekanisme, lokasi pertumbuhan, serta dampaknya terhadap tubuh. Adenomiosis terjadi di dalam dinding rahim, menyebabkan rahim membesar dan nyeri hebat saat menstruasi, sedangkan endometriosis melibatkan pertumbuhan jaringan di luar rahim, yang dapat menyebabkan nyeri kronis dan masalah kesuburan. Diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. Jika mengalami gejala yang mengarah ke salah satu kondisi ini, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Baca Juga: Apakah Penderita Adenomiosis Bisa Hamil? Ini Dia Pengalaman Penderita Adenomiosis Yang Berhasil Hamil!

Subscribe to receive free email updates: