Mengapa Tidak Boleh Minum Teh Setelah Makan?
Minum teh setelah makan merupakan kebiasaan yang banyak dilakukan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Namun, tahukah Anda bahwa mengonsumsi teh langsung setelah makan sebenarnya kurang dianjurkan? Hal ini berkaitan dengan kandungan dalam teh yang dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan yang kita konsumsi. Mari kita bahas lebih lanjut alasan di balik anjuran ini.
Interaksi Kandungan Teh dengan Zat Besi
Teh
mengandung beberapa senyawa yang dapat berinteraksi dengan zat besi dalam
makanan, seperti asam fitat (phytic acid),
polifenol (terutama tanin), dan kafein. Senyawa-senyawa ini bersifat sebagai
inhibitor atau penghambat penyerapan zat besi dalam saluran cerna. Untuk lebih
lengkapnya, berikut adalah beberapa kandungan teh:
1. Asam Fitat (Phytic Acid)
Asam
fitat adalah zat non-gizi yang dapat mengikat mineral seperti besi (Fe), seng
(Zn), dan magnesium (Mg). Ketika asam fitat berikatan dengan mineral-mineral
ini, tubuh tidak dapat menyerapnya dengan baik. Akibatnya, konsumsi teh setelah
makan bisa mengurangi jumlah zat besi yang diserap oleh tubuh, terutama jika
makanan yang dikonsumsi kaya akan sumber zat besi non-heme.
2. Polifenol (Tanin)
Tanin
adalah salah satu jenis polifenol
dalam teh yang juga dapat menghambat penyerapan zat besi. Tanin akan berikatan
dengan zat besi dalam makanan, membentuk senyawa kompleks yang sulit diserap
oleh usus. Hal ini terutama berdampak pada zat besi non-heme yang berasal dari
sumber nabati, seperti sayuran hijau dan kacang-kacangan.
3. Kafein
Kafein
dalam teh juga memiliki efek penghambatan terhadap penyerapan zat besi. Selain
itu, kafein dapat meningkatkan produksi urin, yang bisa mempercepat pembuangan
mineral penting dari tubuh.
Risiko Kekurangan Zat Besi
Jika
kebiasaan minum teh setelah makan terus berlanjut, risiko kekurangan zat besi
bisa meningkat. Kekurangan zat besi dalam tubuh dapat menyebabkan anemia
defisiensi besi, yang ditandai dengan gejala seperti: mudah lelah dan lemas, pusing
dan sakit kepala, kulit pucat, konsentrasi menurun, dan rambut rontok.
Anemia
defisiensi besi lebih sering terjadi pada wanita, anak-anak, dan orang yang
mengonsumsi makanan rendah zat besi. Oleh karena itu, penting untuk
memperhatikan pola makan dan kebiasaan minum teh agar tidak menghambat penyerapan
zat besi.
Jenis Zat Besi dalam Makanan
Zat
besi dalam makanan terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Besi
Heme – Terdapat dalam sumber hewani seperti daging merah, unggas, dan ikan.
Jenis ini lebih mudah diserap oleh tubuh, dengan tingkat penyerapan sekitar dua
kali lipat dibandingkan besi non-heme.
2. Besi
Non-Heme – Berasal dari sumber nabati seperti sayuran hijau, kacang-kacangan,
dan biji-bijian. Penyerapan besi non-heme lebih rendah dibandingkan besi heme,
tetapi dapat ditingkatkan dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C.
Cara Mengatasi Hambatan Penyerapan
Zat Besi dari Teh
Meskipun teh dapat menghambat penyerapan zat besi, ada beberapa cara untuk mengatasinya:
1.
Memberi Jeda Waktu Antara Makan dan
Minum Teh
Dianjurkan
untuk menunggu sekitar dua jam setelah makan sebelum minum teh. Hal ini
memberikan waktu bagi tubuh untuk menyerap zat besi dari makanan sebelum
kandungan teh mulai menghambat proses tersebut.
2. Mengonsumsi Makanan Kaya Vitamin C
Vitamin
C (asam askorbat) dapat meningkatkan penyerapan
zat besi, terutama besi non-heme dari sumber nabati. Oleh karena itu,
mengonsumsi buah atau jus yang kaya vitamin C seperti jeruk, stroberi, dan
paprika dapat membantu mengurangi efek penghambatan dari teh.
3. Memilih Sumber Zat Besi yang Lebih
Mudah Diserap
Jika
Anda sering minum teh, pastikan asupan zat besi Anda berasal dari sumber heme
seperti daging merah, ayam, dan ikan. Zat besi heme lebih tahan terhadap
pengaruh penghambatan dari teh dibandingkan zat besi non-heme.
4. Menghindari Jus Buah dengan
Kandungan Gula Berlebih
Jus
buah memang mengandung vitamin C, tetapi jika mengandung terlalu banyak gula
tambahan, manfaatnya bisa berkurang. Lebih baik mengonsumsi buah segar
dibandingkan jus buah kemasan atau jus yang dijual di restoran yang biasanya
ditambahkan gula pasir.
Meskipun minum teh setelah makan tidak sepenuhnya dilarang, ada baiknya kita memperhatikan pola konsumsi makanan agar tubuh tetap dapat menyerap zat besi dengan optimal. Jika menu makanan yang dikonsumsi beragam—mengandung sumber zat besi heme, besi non-heme, serta vitamin C—maka efek penghambatan dari teh bisa diminimalisir. Oleh karena itu, lebih baik memberi jeda waktu sekitar dua jam setelah makan sebelum menikmati teh, atau memastikan asupan zat besi cukup dari berbagai sumber makanan agar tidak berisiko mengalami anemia atau defisiensi zat besi. Baca Juga: Panduan Diet Seminggu untuk Penderita Gagal Jantung