Terapi Efektif untuk Mengatasi Anak yang Masih Mengompol
Mengompol
adalah masalah umum yang dialami anak-anak, terutama pada usia dini. Laporan di
Amerika Serikat menunjukkan bahwa setidaknya 20% dari siswa kelas 1 Sekolah
Dasar mengalami masalah mengompol, dan sekitar 4% di antaranya mengompol dua
kali atau lebih dalam seminggu. Anak laki-laki lebih banyak mengalami masalah
ini dibandingkan anak perempuan.
Masalah mengompol dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pola minum yang kurang tepat. Misalnya, anak tidak cukup minum saat jam sekolah dan menjelang sore hari. Karena kekurangan cairan ini, anak pulang dengan rasa haus yang amat sangat dan untuk memenuhi kebutuhan cairannya dengan banyak minum saat senja atau malam hari. Pola ini menyebabkan anak lebih sering kencing di malam hari, meningkatkan risiko mengompol.
Untuk
mengatasi masalah ini, perlu dilakukan evaluasi terhadap perilaku anak secara
menyeluruh. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam evaluasi ini
meliputi:
Frekuensi mengompol:
Seberapa sering anak mengalami kejadian ini dalam seminggu?
Pola konsumsi cairan:
Apakah anak kurang minum di siang hari dan lebih banyak minum di malam hari?
Rutinitas sebelum tidur:
Apakah anak sudah terbiasa buang air kecil sebelum tidur?
Riwayat keluarga:
Apakah ada anggota keluarga lain yang pernah mengalami masalah serupa?
Faktor psikologis:
Apakah anak mengalami stres, kecemasan, atau tekanan emosional yang bisa memicu
mengompol? Baca Juga: Mengatasi Depresi Anak dengan Kecerdasan Emosional
Pencatatan
dan evaluasi ini sebaiknya dilakukan selama 2-4 minggu untuk memahami pola yang
terjadi dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Terapi Mengatasi Mengompol pada Anak
Ada
beberapa metode terapi yang dapat diterapkan untuk membantu anak mengatasi
kebiasaan mengompol, yaitu:
Terapi Perilaku
Terapi
perilaku adalah metode yang bertujuan mengubah kebiasaan anak agar lebih
teratur dalam mengontrol buang air kecil. Beberapa teknik yang bisa digunakan
antara lain:
1. Membiasakan
Buang Air Kecil Secara Teratur
Ajarkan anak untuk buang
air kecil setiap pagi, baik saat bangun tidur, setelah sarapan, maupun sebelum
berangkat ke sekolah. Kebiasaan ini efektif untuk menghindari rasa ingin buang
air kecil yang mendadak dan mengurangi risiko mengompol di siang hari.
2. Mengajarkan
Anak untuk Tidak Menahan Kencing
Dorong
anak agar tidak menahan keinginan untuk buang air kecil terlalu lama. Berikan
motivasi agar mereka buang air kecil setidaknya setiap dua jam sekali atau
beberapa kali selama di sekolah. Jika perlu, koordinasikan dengan guru agar
anak merasa nyaman meminta izin ke kamar mandi.
3. Memenuhi
Kebutuhan Cairan Secara Seimbang
Pastikan anak cukup minum
sepanjang pagi dan siang hari. Kebutuhan cairan harian yang direkomendasikan
adalah sekitar 30 ml per kilogram berat badan. Misalnya, jika anak memiliki
berat badan 20 kg, maka ia perlu minum sekitar tiga gelas air setiap hari.
Sebaliknya, kurangi asupan cairan setelah makan malam, kecuali jika anak
memiliki aktivitas fisik tambahan di malam hari.
4. Melatih
Relaksasi Otot Dasar Panggul
Latih anak untuk
merelaksasikan otot dasar panggulnya saat buang air besar. Pastikan kedua
kakinya terbuka dengan telapak kaki menapak rata di lantai. Jika perlu, gunakan
bantalan tambahan agar posisi tubuh lebih nyaman. Selain itu, ajarkan anak
untuk tidak terburu-buru dan menghindari kebiasaan mengejan berlebihan.
5. Melatih
Kontrol Otot Kandung Kemih
Latih anak untuk
mengontrol aliran urine saat buang air kecil. Caranya adalah dengan mengajarkan
mereka untuk berhenti sejenak di tengah proses buang air kecil, lalu
melanjutkan kembali alirannya. Latihan ini akan membantu memperkuat otot
kandung kemih dan meningkatkan kontrol buang air kecil.
6. Menjaga
Pola Makan Sehat
Perbanyak asupan serat
dalam makanan dan minuman anak agar tinja tetap lunak dan mudah dikeluarkan.
Hindari konsumsi minuman bersoda, terutama minuman kola, yang dapat
meningkatkan produksi urine dan memperburuk masalah mengompol.
7. Mendorong
Aktivitas Fisik
Ajak anak untuk lebih
aktif bergerak dan berolahraga, daripada menghabiskan waktu dengan duduk
terlalu lama di depan televisi atau bermain ponsel. Aktivitas fisik yang cukup
akan membantu meningkatkan metabolisme dan mengurangi kemungkinan mengompol.
8. Memberikan
Penghargaan
Setiap kali anak berhasil melewati malam tanpa mengompol, berikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi. Penghargaan tidak harus berupa hadiah besar, tetapi bisa berupa pujian, stiker bintang, atau aktivitas yang menyenangkan bagi anak.
Terapi
Alarm
Terapi
alarm merupakan metode yang telah terbukti efektif dalam membantu anak
mengatasi mengompol. Langkah-langkah menggunakan terapi alarm sebagai berikut:
1. Catat
waktu saat anak mengompol.
2. Di
hari berikutnya, bangunkan anak pada waktu tersebut dengan menggunakan alarm/
dengan panggilan untuk segera buang air kecil.
Jika
dalam dua minggu berturut-turut dijalankan, terapi ini umumnya berhasil dan
sebaiknya terapi alarm ini terus dilaksanakan untuk dua minggu berikutnya. Itu
sebabnya metode ini membutuhkan kesabaran dan konsistensi dari orang tua untuk
membantu anak mengembangkan kebiasaan yang lebih baik.
Terapi dengan Obat
Dalam
beberapa kasus, terapi obat dapat dipertimbangkan jika terapi perilaku dan
terapi alarm tidak memberikan hasil yang memadai. Obat-obatan yang sering
digunakan untuk mengatasi mengompol meliputi: desmopressin, Obat ini membantu
mengurangi produksi urine di malam hari. Selanjutnya, gunakan obat seperti
tolterodine yang berkerja meningkatkan kapasitas kandung kemih dan mengurangi
keaktifan otot-otot kemih.
Jika
terapi lain tidak efektif, maka obat golongan trisiklik bisa digunakan sebagai
langkah terakhir, seperti imipramine. Dimana obat ini dapat membantu
meningkatkan kontrol kandung kemih, tetapi penggunaannya harus diawasi oleh
dokter karena berisiko menimbulkan efek samping.
Mengompol
adalah masalah yang umum terjadi pada anak-anak dan bisa diatasi dengan
pendekatan yang tepat. Evaluasi perilaku anak sangat penting untuk memahami
penyebabnya, termasuk pola minum dan rutinitas buang air kecil. Terapi
perilaku, terapi alarm, dan terapi obat adalah beberapa metode yang dapat
digunakan untuk membantu anak mengatasi kebiasaan ini.
Orang tua berperan besar dalam mendukung anak melewati fase ini dengan kesabaran dan pendekatan yang positif. Jika masalah mengompol terus berlanjut meskipun sudah menerapkan berbagai metode, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau spesialis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Baca Juga: Panduan Lengkap Terapi Anak Yang Belum Bisa Berbicara